WAYANG REALITAS DULU DAN SEKARANG

Budaya menunjukkan bangsa, Disadari atau tidak ternyata budaya berkontribusi besar dalam membangun karakter sebuah bangsa.

Satu diantaranya adalah seni wayang yang diadaptasi oleh para pujangga dari habitat asliya dengan melekatkan kultur dan keberagamaan masyarakat kita, selanjutnya persenyawaan budaya melahirkan cabang – cabang budaya baru dalam bentuk wayang orang, wayang kulit, wayang golek dan ragam jenis wayang lain yang hingga kini berkembang secara dinamis di bumi nusantara.

 

Wali sembilan pada eranya telah mengkaji segala dimensi yang menyangkut masyarakat jawa sebagai obyek dakwahnya, tersimpulkan kemudian bahwa seni dan budaya ibarat dua mata rantai yang tidak terpisahkan dalam pembangunan jiwa sebuah masyarakat. Kenyataan ini mengilhami Para sunan untuk mengarang dan menggubah tembang dengan filosofi religi yang berusaha dibangunkan diatasnya, seperti halnya tembang ilir – ilir. Para sunan juga terampil memainkan perangkat gamelan bahkan sunan kalijaga sangat termasyhur sebagai salah satu dalang yang piawai.

Pesan – pesan religi yang diselipkan melalui dinamisasi tembang dan syair telah menambah nilai strategis budaya tidak sempit sebatas sebagai tontonan melainkan juga sebagai tuntunan tersirat yang bila dikaji secara mendalam akan membawa pada sebuah dimensi pencerahan spiritual.

 

Pagelaran wayang dilakukan sepanjang malam hingga dini hari, itupun memiliki kandungan filosofi yang sangat berarti, telaah religi pun menyatakan betapa malam hingga dini hari merupakan periodesasi waktu keemasan, saat ilmu dengan mudah terserapkan, saat bisikan nurani menguat, saat yang tepat untuk meniti jalan – jalan spiritual terutama di seperempat malam yang terakhir.

Saat hening malam bertemu dengan bening hati maka tak ada halangan lagi untuk mendaki tingginya tangga – tangga spiritual. Menikmati pagelaran wayang pun demikian, kita dituntun untuk mendaki tingginya nilai filosofi yang mengalir lewat untaian syair dan simbolisasi karakter, ini sebenarnya juga merupakan proses kontemplasi untuk menyerap nilai tontonan dalam wujud refleksi nyata kehidupan.

Realitasnya kini, bagi banyak orang wayang hanyalah sebatas hiburan ceremonial yang digelar demi untuk menjaganya dari kepunahan, essensi filosofisnya menguap manakala pergeseran paradigma mulai terasa, kini wayang telah mengalami metamorfosa yang demikian besar, tak lagi dalam telaah filosofi yang ada hanya hiburan yang sengaja dikemas demi membuat orang puas, jadilah dalam satu paket wayang kini kita bisa menonton dagelan, campursari dan sebagainya.

Jadilah kini wayang benar – benar tontonan sebagaimana yang ditafsirkan oleh orang kebanyakan. (Oleh : Badrut Tamam Gaffas)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
No Searches

Leave a Reply


prosense agc agckucom