KEWAJIBAN BERIMAN KEPADA NABI MUHAMMAD SAW

KEWAJIBAN BERIMAN KEPADA NABI MUHAMMAD SAWOleh: Ahmad Khoirul FataUstad di Pon-Pes Arraudhatul Ilmiyah (Taman Pengetahuan) Kertosono Nganjuk“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak mereka bersedih hati.”Qs. Al-Baqarah [2]: 62).Latar Belakang Ayat di atas sering dikutip kalangan liberal untuk menjustifikasi adanya keselamatan bagi kaum Yahudi, Nasrani, dan Sabiin di akhirat kelak meski mereka hidup di zaman Nabi Muhammad Saw tidak beriman kepada risalah beliau. Memang, bila dibaca secara literal ayat di atas seolah-olah melegitimasikan adanya keselamatan bagi umat agama lain dengan syarat mereka beriman pada Allah dan hari kiamat serta beramal salih tanpa perlu mengikuti syariat Nabi Muhammad Saw. Namun pemahaman literal tersebut akan pudar bila ayat tersebut dipahami secara mendalam. Sabab NuzulIbnu Taymiyah dalam al-Tafsir al-Kabir secara tegas menolak pemahaman literal tersebut. Menurutnya sabab al-nuzul ayat tersebut berkaitan dengan pertanyaan Salman al-Farisi kepada Nabi Muhammad Saw tentang nasib sahabat-sahabat Salman yang taat memegang agamanya sebelum datangnya risalah Nabi Muhammad Saw dan meyakini akan datangnya nabi terakhir itu. Nabi Saw kemudian menjawab: “Mereka penghuni neraka.” Setelah bertanya berkali-kali dan jawaban Nabi Saw tetap sama, Salman pun merasa sedih. Namun Allah kemudian menurunkan ayat 62 Surat al-Baqarah [2] tersebut. Jadi yang dikehendaki oleh ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang berpegang teguh pada agama mereka dan meyakini akan hadirnya nabi terakhir namun mereka meninggal sebelum bertemu Nabi Muhammad Saw. Keimanan dan amal salih orang-orang seperti itu akan tetap mendapatkan pahala dari Allah. Sementara orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang bertemu dengan Nabi Muhammad Saw, maka mereka wajib beriman kepada beliau dan mengikuti syariat yang beliau bawa. Selain itu, Ibnu Taymiyah juga menyebutkan pendapat Ibnu Umar yang menganggap ayat tersebut dihapus (naskh) oleh ayat 85 Surat Ali Imran [3].Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugiPerjanjianMeski ada dua versi tafsir Surat al-Baqarah ayat 62 di atas, namun ini tidak menjadi persoalan karena kedua penafsiran tersebut bermuara pada satu kesimpulan yang sama: bahwa para pengikut nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Saw harus mengikuti syariat beliau ketika mereka masih hidup dan bertemu dengan beliau. Kenapa demikian? Dalam ayat 81 Surat Ali Imran [3] dijelaskan kewajiban tersebut terjadi karena Allah telah mengambil perjanjian dengan para nabi untuk beriman dan menolong nabi yang datang setelah mereka serta membenarkan kitab-kitab mereka. Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian (mitsaq) dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.“ Allah (kemudian) berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.Imam al-Tabari dalam Jami` al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an menjelaskan, yang dimaksud dengan “perjanjian (mitsaq)” di ayat tersebut adalah bahwa para nabi harus membenarkan seluruh nabi-nabi yang ada, tidak boleh hanya sebagian, dan perjanjian tersebut juga berlaku untuk seluruh umat dan pengikut mereka. Dan yang dimaksud dengan “nabi yang datang setelah mereka yang membenarkan kitab-kitab mereka dan yang harus diimani serta ditolong” adalah Nabi Muhammad Saw.Dengan demikian, Ibnu Taymiyah dalam Iqtidho’ al-Shirat al-Mustaqim Mukhalafah Ashab al-Jahim menyimpulkan, Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw adalah Islam yang sama sekaligus berbeda dengan Islam yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Kesamaannya terletak pada inti ajarannya (tauhid), dan berbeda pada syariat Nabi Muhammad Saw yang menghapus syariat nabi-nabi sebelumnya. Ibnu Taymiyah menegaskan, setiap umat yang hidup pada masa Nabi Musa atau Isa, dan keluar dari syariat keduanya, maka dia bukan orang Islam. Demikian pula setiap orang yang hidup di masa Nabi Muhammad Saw dan dia tidak masuk agama beliau, dia tidak termasuk orang Islam. Lebih UnggulPada posisi inilah, Ibnu Taymiyah menegaskan keunggulan risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw atas risalah nabi-nabi sebelumnya. Dalam tafsirnya Ibnu Taymiyah nenberikan dua argument untuk penegasannya itu: Pertama, dalil naqli Surat al-Nisa’ [4] ayat 125: Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, dia mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih-Nya. Bentuk kalimat istifham (pertanyaan) pada ayat di atas menurut Ibnu Taymiyah adalah istifham inkari yang berarti penafian atas adanya agama yang lebih baik dari Islam dan menetapkan Islam sebagai agama yang terbaik (ahsan). Ibnu Taymiyah menjelaskan, ayat tersebut turun terkait dengan pertengkaran beberapa orang Muslim dengan orang-orang Yahudi. Orang Yahudi berkata kepada orang Islam: “Nabi kami datang sebelum Nabimu, kitab kami datang sebelum kitabmu, dan kami lebih unggul dari pada kamu”. Omongan orang Yahudi tersebut dibalas oleh orang Muslim: “Kami lebih unggul dari pada kamu, Nabi kami adalah penutup para nabi, dan kitab kami memutuskan kitab-kitab sebelumnya.” Atas pertengkaran ini Allah kemudian menurunkan Surat al-Nisa’ [4] ayat 123:Itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu. Tidak ada pelindung dan penolong baginya selain dari Allah.Ketika turun ayat ini, orang-orang Yahudi berkata: “Kami dan kamu sama.” Orang-orang Muslim pun merasa sedih. Namun kemudian Allah menurunkan Surat al-Nisa’ [4] ayat 124 dan 125: Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.Kedua ayat terakhir ini menurut Ibnu Taymiyah menjadi penegas keunggulan risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Kedua, argumentasi logik tentang kemustahilan adanya dua hal yang sama dan serupa padahal antara keduanya terdapat pertentangan yang fundamental. Dalam kasus agama-agama, Ibnu Taymiyah dalam Iqtidho’ al-Shirat al-Mustaqim melihat, perbedaan antara mereka bukan bermakna keragaman (tanawwu`), namun pertentangan (tudhod). Keragaman adalah adanya dua atau lebih pendapat atau perilaku yang haq menurut syara`, atau satu hal yang memiliki dua pengertian yang sama-sama benar. Sedangkan pertentangan adalah adanya dua pendapat yang saling menafikan, baik di bidang ushul (fundamen) atau furu` (cabang). Dengan berbagai argumen itu menjadi jelas bahwa siapapun juga wajib beriman kepada risalah Muhammad Saw agar mendapatkan keselamatan. Para pengikut nabi sebelum Muhammad Saw tidak akan mendapat keselamatan bila mereka tidak mengakui kenabian beliau, meski mereka beriman kepada Allah Swt dan menjalankan risalah nabinya. Dan tentu saja bila mereka hidup di masa kenabian Muhammad Saw. Allahu a’lam

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...keyword: dalil naqli suudzon, dalil naqli nabi muhammad, dalil naqli tentang suudzon, keunggulan islam dibanding agama lain menurut dalil naqli, dalil naqli dan aqli tentang suudzon
No Searches

Leave a Reply


prosense agc agckucom