Guru, Pendidik dengan Ketulusan

GURU, PENDIDIK DENGAN KETULUSAN*Oleh: Ust. M Ainun Najib, S.Hum, M.Fil.I **Aku adalah hamba bagi siapa sajayang mendidikku, meskipun satu huruf(Ali bin Abu Thalib)Ilmu pengetahuan amat tinggi kedudukannya di dalam Islam. Dengan ilmu peradaban manusia kian maju dan baik. Ali bin Abu Thalib, salah satu sahabat yang termasyhur dengan kecendekiawanannya, berujar dalam kitab Nahj al Balaghah, ““Tiada kekayaan lebih utama selain akal; tiada kepapa[*]an lebih menyedihkan selain kebodohan dan tiada warisan lebih baik selain ilmu.”Rahmat Allah SWT dan doa para malaikat senantiasa mengiringi majelis ilmu atau lembaga pendidikan. Allah menjanjikan kemudahan perjalan menuju surga bagi orang yang menuntut ilmu. Allah juga memandang pendidik sebagai manusia yang terbaik karena kebaikan hati guru mendidik siswa. Maka, tidak berlebihan kiranya Allah memberikan kedudukan tinggi bagi orang yang beriman dan berilmu.Pendidikan adalah wahana mengasah akal dan mencerdaskan nurani, tidak sekadar transfer ilmu, dengan melibatkan berbagai unsur. Salah satu unsur terpenting dalam proses pendidikan adalah guru. Eksistensi guru memiliki peran yang amat penting dalam pendidikan. Kemajuan teknologi informasi melalui internet sekalipun menyediakan pengetahuan yang berlimpah, tidak dapat mengantikan kedudukan guru. Internet yang berada di dunia maya sekadar memberikan asupan pengetahuan, tetapi tidak memberikan didikan seperti yang dilakoni guru.Kata orang Jawa, seorang disebut guru karena orang tersebut memang layak digugu (didengarkan) nasehatnya dan ditiru (diteladani) akhlaknya. Dalam tataran ideal seorang guru memang tidak sekadar mempunyai kecakapan dalam mengajar sebuah ilmu (hard skill), melainkan juga memiliki kecakapan akhlak (soft skill) dalam mendidik siswa. Pertanyaanya, masih adakah guru ideal seperti itu yang terlibat dalam proses pendidikan?Didikan guru yang penuh dengan ketulusan akan mampu melahirkan generasi unggul dalam ilmu pengetahuan dan akhlak. Sosok guru seperti yang termaktub dalam tetralogi Andrea Herata, Laskar Pelangi bukanlah sebuah imaji kosong. Di tengah berbagai keterbatasan, dengan pengorbanan Ibu Muslimah, merekah orang-orang berintelegensia tinggi dan bertalenta.Menghormati guru adalah keharusan yang tidak dapat ditawar. Tanpa menghormati guru proses pendidikan berjalan tidak berjalan sesuai dengan koridornya. Proses pendidikan dianggap mengalami kegagalan. Pendidikan hanya memunculkan generasi yang cerdas tetapi tuna-akhlak. Akibatnya, tidak jarang siswa tidak menghormati guru. Tragisnya beberapa siswa mencaci-maki guru. Padahal, kecerdasan otak dan luasnya cakrawala pengetahuan siswa tidak hadir sendirinya tanpa sentuhan dan doa para guru mereka yang mengajarkan secara ikhlas.Islam sangat menganjurkan agar umatnya menghormati para ulama dan guru. Dalam kitab Ta’lim Muta’allim, kitab tentang sopan santun menuntut ilmu yang digunakan di pesantren salaf (tradisional), dijelaskan bagaimana cara menghormati guru, di antaranya; tidak boleh berjalan di depan gurunya, tidak duduk di tempat yang diduduki gurunya, dan bila berhadapan dengan guru tidak memulai pembicaraan kecuali atas izinnya.Nabi Muhammad SAW bersabda, “Pelajarilah ilmu, pelajarilah ilmu dengan ketenangan dan sikap hormat serta tawadhu kepada orang yang mengajarimu.” Ilmu tidak akan dapat diperoleh secara sempurna kecuali dengan diiringi sifat tawadhu siswa terhadap gurunya, karena keridhaan guru terhadap siswa akan membantu proses penyerapan ilmu. Tawadhu siswa terhadap guru merupakan cermin ketinggian akhlak karimah siswa.Sikap tunduk siswa kepada guru justru kemuliaan dan kehormatan bagi siswa itu sendiri, bukan untuk guru. Tawadhu kepada guru adalah kunci sukses dalam menuntut ilmu. Perilaku para sahabat, yang memperoleh pendidikan langsung dari Rasulullah SAW patut dijadikan contoh. Ibnu Abbas, sahabat mulia yang amat dekat dengan Rasulullah mempersilahkan Zaid bin Tsabit, salah satu penulis wahyu Al Qur’an, untuk naik di atas kendaraannya, sedangkan ia sendiri yang menuntunnya. “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ulama kami,” ucap Ibnu Abbas. Zaid Bin Tsabit sendiri mencium tangan Ibnu Abbas. “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan anggota keluarga Rasulullah,” Kata Zaid.Orang-orang terdahulu sangat hormat terhadap ulama mereka. Terhadap Said bin Musayyab, faqih tabi’in, orang-orang tidak akan bertanya sesuatu kepadanya kecuali meminta izin terlebih dahulu, seperti layaknya seseorang yang sedang berhadapan dengan khalifah.Sikap ini juga diikuti oleh para ulama. Imam Abu Hanifah sebagai contoh sangat menghormati gurunya. Beliau pernah berkata, “Aku tidak pernah shalat setelah guruku, Hammad, wafat, kecuali aku memintakan ampun untuknya dan untuk orang tuaku.” Perbuatan ini diikuti juga oleh Abu Yusuf, anak didik Abu Hanifah, ia selalu mendoakan Abu Hanifah sebelum mendoakan kedua orang tuanya sendiri.Penghormatan Imam As Syafi’i kepada guru beliau Imam Malik, juga merupakan pelajaran. Imam Syafi’i pernah berkata, “Di hadapan Malik aku membuka lembaran-lembaran dengan sangat hati-hati, agar jatuhnya lembaran kertas itu tidak terdengar‌.”Abdullah, putra dari Imam Ahmad bertanya kepada ayahnya tentang karakter Syafi’i yang kerap kali dido’akan oleh Imam Ahmad sesudah shalat? “Wahai anakku, Syafi’i seperti matahai bagi dunia‌,” jawab Ahmad bin Hanbal.Sikap hormat dan tawadhu mereka kapada para guru amat tinggi, bahkan dalam berdoa sendiri mereka mendahulukan para guru, baru kemudian orang tua. Imam Al Ghazali menjelaskannya dalam Ihya’ Ulumuddin bahwa para guru lebih besar daripada hak orang tua. Orang tua merupakan sebab kehadiran manusia di dunia fana, sedangkan guru bermanfaat bagi manusia untuk mengarungi kehidupan di dunia dan akhirat yang kekal. Kalaulah bukan karena jeri payah guru, maka usaha orang tua akan sia-sia dan tidak bermanfaat. Karena para guru yang memberikan manusia bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal‌.Penghormatan sahabat dan ulama besar kepada guru merupakan akhlak mulia yang tidak lekang dimakan waktu. Ketulusan dan pengorbanan guru memang layak mendapatkan penghormatan sebagai bentuk ucapan terima kasih siswa. Tanpa tawadhu’ dan menghormati guru, ilmu yang terserap lewat proses pendidikan tak ubahnya seperti pohon yang tidak bermanfaat sama sekali.

* Disampaikan pada Darul Arqam SMAM I Jombang di Pon-Pes Taman Pengetahuan Kertosono, Romadhon 1430 H.[*]* Ustad di Pon-Pes Taman Pengetahuan, Kertosono, Nganjuk

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...keyword: naskah pildacil adab kepada guru, contoh pidato tentang guru, naskah pidato tentang guru, pidato bertema guru, menghormati guru, pidato menghormati guru, pidato tentang menghormati guru, teks pidato akhlakul karimah, PIDATO TEMA guru, teks pidato guru, contoh pidato tentang akhlakul karimah, menghormati guru dalam islam, guru ideal menurut islam, teks pidato tentang menuntut ilmu, pidato adab terhadap guru, contoh pidato bertema guru, cara menghormati guru, naskah pidato pelajar, Kultum yang bertema menghormati guru, ilmu menghormati guru, teks pildacil adab terhadap guru
No Searches

Leave a Reply


prosense agc agckucom