Surat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab


Ketika nama wahabi disebut, selalu orang mengaitkan dengan sebuah aliran fundamentalis Islam, yang selalu menyalahkan pendapat kelompok lainnya. Paling tidak, pengikut wahabi mesti dikonotasikan tukang membid’ahkan, mengkafirkan dan menganggap sesat orang lain yang tidak sepaham dengannya. Tidak heran jika aliran ini menjadi sasaran cercaan kalangan muslim sendiri, sebagai kelompok yang keras kepala dan pemecah persatuan umat Islam.

Tapi benarkah mereka bisa dikatakan sebagai pengikut wahabi, dalam artian mengikuti jejak dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab? Justru ini yang kadang tidak terpikirkan oleh kita. Dalam kitab yang ditulis oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki Mafahim Yajibu An Tushohhah menampilkan surat-surat yang dikirimkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dalam surat-suratnya yang dikirimkan kepada orang-orang al-Qashim dan Iraq, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab justru berlepas diri dari tindakan mereka yang mengaku pengikutnya. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini kami tampilkan surat-surat beliau yang dimuat dalam kitab Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Mafahim Yajibu An Tushohhah cetakan ke-10 tahun 1995, hlm. 310-312 dan kitabnya Al Ghuluw wa Atsaruhu fil Irhab wa Ifsad Al-Mujtama’ (terjemahan KH. Ihya’ Ulumiddin) hlm. 45-47.

Al Imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam suratnya yang dikirim kepada orang-orang al-Qasim:

Telah kalian ketahui bahwasanya aku mendengar Sulaiman bin Suhaim telah mengirim surat kepada kalian. Bahkan, kalangan orang-orang berilmu di daerah kalian menerima dan membenarkan isi surat itu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui bahwasanya orang itu (Sulaiman bin Suhaim) telah berbohong mengatasnamakan aku dalam beberapa perkara yang aku tidak mengucapkannya. Bahkan, tidak pernah terlintas dalam hatiku. Diantara isi surat itu yang dia tulis bahwa aku mengingkari kitab-kitab empat madzhab yang ada dan aku berkata, sesungguhnya manusia selama 600 tahun telah hidup dalam keadaan sia-sia dan bahwa aku mengaku sebagai mujtahid, aku tidak bertaqlid, dan aku berkata bahwa perbedaan pendapat diantara para ulama adalah bencana dan bahwa aku mengafirkan orang-orang yang bertawasul denga orang-orang sholeh, dan bahwa aku mengafirkan Al-Bushiri karena dia berkata “Wahai makhluk termulia” , dan bahwa aku berkata, andai aku mampu menghancurkan kubah Rasulullah SAW. niscaya akan aku hancurkan dan andai aku mampu, aku akan mengambil talang emas ka’bah dan aku ganti dengan talang kayu, dan aku mengharamkan ziarah ke makam Rasulullah SAW. dan aku mengingkari ziarah kepada kedua orang tua dan lainnya, dan aku bersumpah dengan selain nama Allah ta’ala dan aku mengafirkan Ibnu al Faridl dan Ibnu ‘Arobiy, dan aku membakar kitab Dalailul Khoirot dan Kitab Roudur Royyahin dan menamainya Roudus Syaithan.

Aku jawab semua masalah ini seraya aku katakana, “Maha Suci Engkau ya Allah, ini adalah kedustaan yang besar dan sebelumnya telah ada orang yang mendustakan Nabi Muhammad SAW. juga telah ada orang yang menghina Isa bin Maryam dan orang-orang shaleh sehingga hati mereka menjadi serupa dalam kedustaan dan kebohongan. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl: 105)

Mereka semua telah mendustakan Nabi Muhammad SAW. bahwa para Malaikat, Isa, dan Uzair akan masuk neraka. Maka Allah Ta’ala menjawab perkataan mereka dengan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” (QS. Al-Anbiya’: 101)

Surat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lainnya: Surat ini dikirim kepada as Suwaidi, seorang ulama di Iraq, sebagai jawaban dari surat as Suwaidi kepadanya. Dalam suratnya ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:

“Sungguh, menyebarkan kebohongan adalah hal yang memalukan bagi orang yang berakal apalagi mengadakan kebohongan. Adapun yang Anda katakana bahwasanya aku mengafirkan segenap manusia kecuali pengikutku sungguh mengherankan. Bagaimana hal ini bisa terpikirkan oleh orang yang berakal? Apakah pantas seorang Muslim berkata demikian? Adapun yang Anda katakan bahwa aku berkata, andai aku mampu menghancurkan kubah Nabi SAW. niscaya akan aku hancurkan. Juga tentang kitab Dalailul Khairat, bahwa aku melarang untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal itu semua adalah dusta belaka dan seorang Muslim tidak akan berkeyakinan adanya hal yang lebih mulia daripada kitab Allah SWT (Al-Qur’an)”.
Demikian isi surat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya.(mm)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
No Searches

Leave a Reply


prosense agc agckucom