Meraba Asa Di Hutan Rawa

uas wilayah hutan daratan memang semakin menyempit, harapan alternatif bangsa ini ada pada lebih dari dua puluh tiga juta hektar hutan perairan, hutan rawa (bakau).

Rawa sebagai tanah yang rendah (umumnya di daerah pantai) dan digenangi air, yang tak jarang terdapat tumbuhan air di wilayah genangan air tersebut, bakau (Rhizophora mucronata) contohnya. Ini menjadi harapan alternatif ketika luas hutan di daratan semakin menyempit dengan segala potensi alamnya yang semakin menipis.

Karena biodiversitas yang ada pada hutan rawa tidak kalah dibandingkan dengan biodiversitas di hutan daratan. Keanekaragaman hayati atau biodiversitas bukanlah sekedar angka yang menunjukkan kekayaan jenis tumbuhan, hewan dan mikroorganisme, tetapi lebih luas mencakup variasi, variabilitas dan keunikan genetik (gene), jenis (spesies) dan ekosistemnya.

Beragamnya agroekologi lahan rawa menyebabkan beragamnya keanekaragaman hayati termasuk flora dan memungkinkan tumbuhnya berbagai jenis tanaman, baik tanaman pangan, tanaman buah-buahan maupun tanaman obat-obatan. Hutan yang digenangi air bersifat musiman ataupun permanen ini memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Jenis flora yang sering terlihat memenuhi hutan perairan ini seperti ramin (Gonystylus sp), terentang (Camnosperma sp.), durian burung (Durio carinatus), kayu putih (Melaleuca sp), sagu (Metroxylon sp), pandan, palem-paleman, rotan dan berbagai jenis lainnya.

Sedangkan faunanya yang tidak jauh berbeda dengan yang ada pada hutan di darat, seperti harimau (Panthera tigris), rusa (Cervus unicolor), buaya (Crocodylus porosus), Orang utan (Pongo pygmaeus), babi hutan (Sus scrofa), badak, musang air, gajah dan berbagai jenis ikan.Ini pula yang dijelaskan oleh Christian Pelras (1998) bahwa menurut konsep Fitografi Steenis, Indonesia merupakan bagian dari kawasan Malesia yang persebaran marga flora dan fauna di kawasan ini ditandai oleh tiga simpul demarkasi; Malesia Barat (MB), Malesia Timur (MT), Malesia Selatan (MS).

Atas dasar letak geografi dan keanekaragaman hayati tersebut maka tidak heran bila hanya melihat biodiversitas di hutan perairan Indonesia, negara ini dijuluki sebagai megadiversitas yang masuk dalam kategori tertinggi di dunia. Keberadaan hutan rawa di Indonesia yang berada di daerah yang berbeda satu dengan yang lainnya menambah keberagaman jenis hutan perairan itu sendiri.

Dewasa ini hutan perairan di Indonesia diramaikan dengan hutan rawa air tawar dengan permukaan tanah yang kaya akan mineral. Jenis hutan rawa gambut pun menjadi hutan pilihan bagi beragam fauna karena daerah hutan perairan ini terbentuk dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan yang proses penguraiannya sangat lambat sehingga tanah gambut memiliki kandungan bahan organik yang sangat tinggi.

Yang belum maksimal dimanfaatkan adalah jenis rawa tanpa hutan yang merupakan bagian dari ekosistem rawa hutan. Ini disebabkan karena rawa ini hanya ditumbuhi tumbuhan kecil seperti semak dan rumput liar. Berdasarkan sejarah, sudah sejak dulu hutan rawa menjadi penyedia berbagai keperluan hidup bagi berbagai masyarakat lokal.

Selain itu, sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, hutan rawa menyediakan berbagai jenis sumber daya sebagai bahan baku industri dan berbagai komoditas perdagangan yang bernilai ekonomis tinggi yang dapat menambah devisa negara. Dapat dikatakan secara garis besar, manfaat ekonomis hutan rawa seperti hasil berupa kayu (kayu konstruksi, tiang/pancang, kayu bakar, arang, serpihan kayu (chips) untuk bubur kayu), sedangkan hasil bukan kayunya berupa hasil hutan ikutan (tannin, madu, alkohol, makanan, obat-obatan) maupun jasa lingkungan (ekowisata).

Di sisi lain manfaat ekologis yang dapat digunakan oleh masyarakat sekitarnya sebagai pelindung lingkungan, baik bagi lingkungan ekosistem daratan, lautan maupun sebagai habitat berbagai jenis fauna, ini karena hutan rawa mampu memproteksi dari abrasi, gelombang atau angin kencang, mengendalikan intrusi air laut, sebagai habitat berbagai jenis fauna, sebagai tempat mencari makan, memijah dan berkembang biak berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya, sebagai pembangunan lahan melalui proses sedimentasi, mampu memelihara kualitas air (mereduksi polutan, pencemar air) hingga sebagai penyerap CO2 dan penghasil O2 yang relatif tinggi dibandingkan tipe hutan lain.

Umumnya pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) memang telah lama menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia. Selain karena tanah Indonesia yang subur sebagai olahan agraris tetapi juga terkenal dengan wilayah maritimnya. Ketika sumber daya agraris semakin menipis adalah sebuah pilihan alternatif untuk memanfaatkan wilayah perairan Indonesia semisal hutan rawa.

Selain sebagai sumber cadangan air, hutan rawa dapat menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan air tersebut pada saat daerah sekitarnya kering atau dengan kata lain banjir dapat dicegah, intrusi air laut ke dalam air tanah dan sungai pun dapat dihindari. Karena hutan rawa dapat dijadikan sebagai sumber bahan makanan nabati dan hewani maka tak jarang keberadaan hutan perairan yang kaya akan flora dan fauna tersebut dimanfaatkan sebagai sumber mata pencaharian penduduk sekitarnya. Inilah yang disebut oleh budayawan Jakob Sumardjo sebagai peradaban air, ketika hutan dan perairan menjadi tulang punggung masyarakat Indonesia dan menjadi kodrat manusia khatulistiwa.

Adalah Muara Angke menjadi contoh kongkret pemanfaatan daerah perairan rawa yang sekarang menjadi cagar alam dibagian Utara kota Jakarta. Muara Angke membentang luas sepanjang garis pantai dari muara Karang ke Barat ke arah Kamal dengan panjang kurang lebih 5 km dengan lebar 100 meter persegi sehingga luasnya kurang lebih 50,80 Ha. Hutan ini ditumbuhi dari berbagai macam tumbuhan air diantaranya pohon bakau, pohon api-api, akasia, dan tumbuhan perdu lainnya.

Topografi hutan rawa umumnya datar yang dicirikan oleh sifat hidrologi yang dipengaruhi oleh diurnal pasang surut, yang dikenal sebagai lahan rawa pasang surut, atau tergenang melebihi 3 bulan yang dikenal sebagai lahan rawa lebak (Widjaja Adhi, 1986).

Sifat yang khas ini mendukung perkembangan tumbuhan, binatang dan mikroba yang khas rawa. Satwa yang banyak menjadi penghuni kawasan cagar alam ini adalah musang, berang-berang dan monyet, selain itu ada 74 jenis burung diantaranya kuntul, blekok, pecuk, bango, belibis. Namun jika kita ke sana yang sering dijumpai adalah jenis kuntul dan belibis. Diperkirakan burung-burung ini sudah hijrah ke pulau Rambut, lalu ada juga 4 jenis ikan dan 7 jenis reptil, biawak dan berbagai ular berbisa dan ular sanca.

Jelas fungsi hutan rawa dari sudut ekologis menjadi suatu ekosistem yang unik. Alasannya, di kawasan hutan rawa terpadu empat unsur biologis yang penting, antara lain daratan, pepohonan, fauna serta ekosistem itu sendiri. Sehingga, pengelolaan potensi hutan seperti ini harus tepat dan rasional agar fungsi ekologis dan ekonomisnya dapat dimanfaatkan secara maksimal. Karena berjuta-juta rakyat Indonesia telah menaruh hidupnya pada hutan rawa.

Beberapa justifikasi untuk mengelola ekosistem hutan rawa secara berkelanjutan adalah hutan perpaduan antara daratan dan lautan ini merupakan SDA yang dapat dipulihkan –renewable resources atau flow resources yang mempunyai manfaat ganda (manfaat ekonomis dan ekologis). Hutan rawa mempunyai nilai produksi primer bersih yang tinggi. Bagaimana tidak, hutan rawa ternyata mampu menghasilkan energi alternatif biomassa (62,9-398,8 ton per ha), guguran serasah (5,8-25,8 ton/ha/th) dan riap volume (20 ton/ha/th, 9 m3/ha/th pada hutan tanaman bakau umur 20 tahun). Besarnya nilai produksi primer ini cukup berarti bagi penggerak rantai pangan kehidupan berbagai jenis organisme akuatik di pesisir dan kehidupan masyarakat pesisir itu sendiri.

Tak hanya itu –dalam skala internasional, regional dan nasional- walaupun hutan rawa luasnya relatif kecil bila dibandingkan luas hutan daratan maupun luasan tipe hutan lainnya, tapi manfaat (ekonomis dan ekologis) sangatlah penting bagi kelangsungan kehidupan masyarakat (khususnya masyarakat pesisir). Sedangkan, dipihak lain, ekosistem hutan rawa bersifat rentan (fragile) terhadap gangguan dan cukup sulit untuk merehabilitasi kerusakannya.

Ekosistem hutan rawa, baik secara sendiri maupun bersama dengan ekosistem padang lamun dan terumbu karang di dalamnya berperan penting dalam stabilisasi suatu ekosistem pesisir, baik secara fisik maupun biologis. Dan yang pasti ekosistem di hutan rawa merupakan sumber yang kaya akan plasma nutfah yang saat ini sebagaian besar manfaatnya belum tereksplorasi.

Maka jelaslah diperlukan pengelolaan dan pemberdayaan hutan rawa secara berkelanjutan. Bila menilik jumlah hutan rawa di Indonesia yang ditemukan hampir di seluruh kepulauan di Indonesia, di 33 provinsi yang ada. Yang sebagian besar terkonsentrasi dan terluas di Papua, Kalimantan (Timur dan Selatan), Riau dan Sumatera Selatan. Maka luas yang diperoleh berdasarkan data terakhir yang dilansir situs resmi www.lablink.or.id adalah 23 juta hektar.

Hutan rawa di Papua merupakan salah satu wilayah utama bakau di Indonesia dan satu dari areal yang terluas di dunia, yang sampai saat ini tidak mendapat tekanan besar untuk dikonversi menjadi penggunaan lain dan ini memberi kesempatan khusus bagi Indonesia guna melaksanakan mandat nasional dan internasional untuk konservasi sumber daya biologi yang bermakna bagi dunia.

Walau Indonesia memiliki hutan rawa yang relatif luas tapi ketika ancaman yang mengganggu eksistensi hutan rawa ini tidak tertangani seperti meningkatnya berbagai pembangunan di sekitar wilayah pesisir, konservasi kemanfaatan –budidaya perairan, infrastruktur pantai termasuk pelabuhan, industri, pembangunan tempat perdagangan dan perumahan, serta pertanian- menjadi penyebab berkurangnya sumber daya hutan rawa dan beban berat bagi hutan rawa yang ada.

Selain ancaman langsung pembangunan tersebut, ternyata sumber daya hutan rawa rentan terhadap aktivitas pembangunan yang terdapat jauh dari habitatnya. Ancaman dari luar tersebut yang sangat serius berasal dari pengelolaan daerah aliran sungai yang serampangan dan meningkatnya pencemaran hasil industri dan domestik (rumah tangga) yang masuk ke dalam daur hidrologi.

Dampak buruk yang terjadi dari erosi tanah yang parah dan meningkatnya kuantitas serta kecepatan sedimen endapan di lingkungan hutan rawa adalah kematian masal (dieback) bakau yang tidak terhindarkan lagi karena lentiselnya tersumbat oleh sedimen tersebut.

Ancaman lainnya langsung yang paling serius terhadap hutan rawa pada umumnya diyakini akibat pembukaan liar lahan bakau untuk pembangunan tambak ikan dan udang. Meskipun kenyataannya bahwa produksi udang telah jatuh sejak beberapa tahun yang lalu, yang sebagian besar diakibatkan oleh hasil yang menurun, para petambak bermodal kecil masih terus membuka areal bakau untuk pembangunan tambak baru.

Usaha spekulasi semacam ini pada umumnya kekurangan modal dasar untuk membuat tambak pada lokasi yang cocok, tidak dirancang dan dibangun secara tepat, serta dikelola secara tidak profesional. Maka akibat yang umum dirasakan dalam satu atau dua musim, panennya rendah hingga sedang, yang kemudian diikuti oleh cepatnya penurunan hasil panen dan akhirnya tempat tersebut menjadi terbengkalai.

Di seluruh Indonesia ancaman terhadap hutan rawa yang diakibatkan oleh eksploitasi produk kayu sangat beragam, tetapi secar keseluruhan biasanya terjadi karena penebangan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan HPH atau industri pembuat arang seperti di Sumatera dan Kalimantan. Kayu-kayu bakau sangat jarang yang berkualitas tinggi untuk bahan bangunan. Kayu-kayu bakau tersebut biasanya dibuat untuk chip (bahan baku kertas) atau bahan baku pembuat arang untuk diekspor keluar negeri.

Pada umumnya jenis-jenis bakau dimanfaatkan secara lokal untuk kayu bakar dan bahan bangunan lokal. Komoditas utama kayu bakau untuk diperdagangkan secara internasional adalah arang yang berasal dari Rhizophora sp., yang mempunyai nilai kalori sangat tinggi.

Melihat wacana masyarakat yang berkembang, ancaman yang paling serius bagi hutan rawa adalah persepsi di kalangan masyarakat umum dan sebagian besar pegawai pemerintah yang menganggap bakau merupakan sumber daya yang kurang berguna yang hanya cocok untuk pembuangan sampah atau dikonversi untuk keperluan lain. Sebagian besar pendapat untuk mengkonversi bakau berasal dari pemikiran bahwa lahan bakau jauh lebih berguna bagi individu, perusahaan dan pemerintah daripada sebagai lahan yang berfungsi secara ekologi.

Apabila persepsi keliru tersebut tidak dikoreksi, maka masa depan hutan rawa Indonesia dan juga bakau dunia akan menjadi sangat suram.Agar rakyat Indonesia tetap mampu menjadikan hutan rawa sebagai sumber mata pencahariannya, maka perlu pengelolaan ekosistem hutan rawa secara berkelanjutan. Dasar yang dapat dijadikan pijakan dalam pengelolaan SDA hutan rawa secara berkelanjutan adalah karena pengelolaan SDA hutan rawa mempunyai tujuan utama untuk menciptakan ekosistem yang produktif dan berkelanjutan untuk menopang berbagai kebutuhan pengelolaannya.

Agar terciptanya ekosistem yang produktif maka pengelolaan SDA hutan rawa harus diarahkan pada kegiatan eksploitasi dan pembinaan yang tujuannya mengusahakan agar penurunan daya produksi alam akibat tindakan eksploitasi dapat diimbangi dengan tindakan peremajaan dan pembinaan. Sehingga manfaat yang diperoleh dapat maksimal dan tentunya secara terus menerus. Karena dalam pengelolaan hutan rawa yang berkelanjutan, pertimbangan ekologi dan ekonomi harus seimbang.

Oleh karena itu pemanfaatan berbagai jenis produk yang diinginkan oleh pengelola dapat dicapai dengan mempertahankan kelestarian SDA tersebut dan lingkungannya.Dengan demikian secara filosofis, pengelolaan SDA hutan rawa yang berkelanjutan jelas untuk memenuhi kebutuhan saat ini dengan tanpa mengabaikan pemenuhan kebutuhan bagi generasi yang akan datang, baik dari segi keberlanjutan hasil maupun fungsi, karena telah hidup berjuta asa di hutan rawa.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...keyword: hutan rawa, hutan rawa air tawar, www bokepindo, kayu ular dari papua, ciri ekologi rawa, ekologi rawa, ancaman pada rawa, ciri-ciri ekosistem rawa gambut, manfaat kayu ular, Khasiat kayu ular, ekosistem hutan rawa, rawa yang ada di indonesia, hutan rawa adalah, Kasus pencemaran dan keterkaitannya dengan hidrologi
No Searches

Leave a Reply


prosense agc agckucom