Ketika Pengikut Tarekat Bicara Korupsi


PULUHAN ulama, ratusan santri, dan ribuan kaum muslimin—tua, muda, anak-anak, lelaki dan perempuan—tumplek di Masjid Agung Pekalongan. Mereka bahkan meluber sampai ke halaman dan jalan-jalan di sekitarnya. Malam itu, Sabtu dua pekan lalu, begitu salat isya usai, gumam zikir bergema di seantero masjid.

Istigasah akbar yang digelar menyambut Muktamar X Jam’iyah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (himpunan penganut tarekat “resmi” Nahdlatul Ulama), minggu terakhir Maret lalu, itu diawali dengan membaca manakib alias biografi Rasulullah SAW, Simthud Durar (Untaian Mutiara). Suasana menjadi lebih religius begitu KH Muhaiminan Gunardo, pimpinan Pesantren Bambu Runcing, Temanggung, tampil membaca Al-Fatihah.

Sedu-sedan dan isak tangis mengharap rahmat dan berkah Allah SWT terdengar ketika Habib Luthfi bin Yahya memandu istigasah dengan serangkaian doa dan wirid. Dan ketika pimpinan tertinggi Jam’iyah itu membaca lailaha ilallah dengan suara baritonnya, jantung Kota Pekalongan itu menjelma menjadi majelis zikir sufi seperti di abad pertengahan di Irak, Iran, atau Asia Tengah. Sejumlah besar jemaah tampak mengalami ekstase. Mereka menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan kanan mengikuti irama zikir, kian lama kian cepat. Sembari melafalkan kalimat tauhid itu, mereka tersedu sesenggukan. Air mata meleleh.

Setelah estafet doa dibawakan oleh 12 kiai sepuh, jemaah kembali histeris manakala Habib Husein Alatas dari Cirebon memanjatkan doa dalam bahasa Jawa, dengan suara keras bernada tinggi dan kalimat yang dipanjang-panjangkan: “Ya Allah, kiranya segeralah turunkan rahmat-Mu kepada bangsa ini yang senantiasa dilanda musibah, bencana, dan pertikaian tiada henti.…”

Berdiri pada 1957 di Pesantren Tegalrejo, Magelang, federasi 45 aliran tarekat ini semula bernama Jam’iyah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah. Pada 1970-an, ada upaya menyeret Jam’iyah ke bawah payung Golkar dan mengubah namanya menjadi Jam’iyah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah al-Indonesiyah. Untuk menghimpun kembali penganut tarekat yang berafiliasi kepada NU, dalam muktamar V tahun 1984 di Pesantren Nurul Qadim, Probolinggo, diputuskan menyempurnakan nama federasi tersebut menjadi Jam’iyah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah.

Muktamar selama sepekan ini makan biaya tak kurang dari Rp 7 miliar, sebagian besar terdiri dari sumbangan in natura bermacam bahan makanan, jasa pemondokan, dan alat transportasi.

Berbeda dengan muktamar sebelumnya, kali ini yang dibahas tak semata masalah tarekat—metode kesufian untuk membersihkan rohani sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. “Sesuai dengan temanya—reaktualisasi ajaran tarekat untuk membantu menyelesaikan persoalan bangsa dan negara—muktamar ingin kembali mendekatkan ulama dan umara alias birokrat,” kata KH Chabib Thoha, ketua panitia muktamar, penganut tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Meski begitu, Habib Luthfi—terpilih kembali sebagai rais am idarah aliyah (ketua umum dewan tertinggi)—menolak kesan bahwa muktamar itu bernuansa politik. “Begitu thoriqoh dibawa ke pentas politik, ya, bubar,” kata ulama karismatik yang gemar menikmati musik klasik dan mahir memainkan organ itu. Ia adalah mursyid beberapa tarekat seperti Syadziliyah, Alawiyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Sathariyah, Tijaniyah, dan Ghazaliyah.

Menurut dia, tarekat membimbing para murid (pengikut) untuk senantiasa mensucikan rohani agar lebih lempang dalam mendekatkan diri kepada Allah. “Kalau kaum tarekat ingin membantu menyelesaikan masalah bangsa dan negara, hal itu semata-mata melaksanakan ujaran para ulama, hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman),” katanya sembari menyeruput kopi Loewak dan menyedot rokok kretek.

Selama ini, tarekat memang dipersepsikan sebagai amalan ibadah para kiai, setidaknya orang-orang tua, yang menjauhi keduniawian. Maka, masih relevankah metode kesufian ini di zaman modern seperti sekarang, ketika berbagai aspek kehidupan cenderung materialistis dan orang semakin individualistis? “Justru orang modern sekarang ini, yang jiwanya kebanyakan kering, yang mengalami frustrasi dan menderita depresi, sesungguhnya sangat membutuhkan tarekat,” ujar Habib Luthfi, yang memimpin sekitar 30 juta penganut tarekat itu.

Menurut dia, upaya membersihkan rohani itu mulai dari wudu—yang berimbas pada kesucian pancaindra dan segenap anggota tubuh—sampai dengan menunaikan berbagai kewajiban syariat. Termasuk salat wajib dan sunah, terutama tahajud, serta bermacam-macam doa, zikir, dan wirid. Juga ibadah muamalah (kemasyarakatan) serta kualitas perilaku luhur: santun, tak mudah marah, suka menolong dan memaafkan, tawadu alias rendah hati.

“Jika jiwa-raga sudah suci, diharapkan perilaku seorang mukmin bisa lebih baik. Dengan menyandang akhlaqul karimah alias budi pekerti luhur, seorang mukmin diharapkan tampil sebagai pribadi berkualitas yang bermanfaat bagi masyarakat, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW. Termasuk cinta tanah air, yang mewajibkannya untuk tidak merusak atau menelantarkan negara dan bangsa,” ia menambahkan.

Bisa dimaklumi jika dalam kata sambutannya pada pembukaan muktamar, Minggu pagi, di halaman Pendopo Kabupaten Pekalongan di Kajen—25 kilometer sebelah selatan Pekalongan—secara khusus ia menekankan pentingnya menjalin hubungan antara ulama tarekat sebagai suri tauladan dan umara. Ia juga tak lupa mendoakan pemerintah agar mampu meningkatkan martabat bangsa.

Walhasil, ada kesan kuat muktamar kali ini bermaksud mengingatkan pentingnya kesalehan sosial di samping tetap memelihara kesalehan personal. Maka, gayung pun bersambut. Dalam kata sambutannya sebelum membuka muktamar dengan menabuh beduk, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak para ulama tarekat—yang ia sebut sebagai “insan kamil”—untuk membantu memberantas korupsi dan kemaksiatan lainnya.

Mendengar pernyataan itu, malam harinya, dalam dialog dengan Jaksa Agung Abdurrahman Saleh di Pendopo (lama) Kabupaten Pekalongan, beberapa muktamirin mendesak agar para koruptor dihukum mati. Desakan itu tak ayal bikin Jaksa Agung terperangah. “Semula saya mengira kaum tarekat terdiri dari orang-orang tua, atau para santri sarungan, yang setiap malam menghitung tasbih saja. Kalau semangat kaum tarekat seperti ini, saya yakin para koruptor pada mules perutnya,” kata Jaksa Agung, disambut tawa dan keplok gemuruh.

Sikap tujuh ribuan muktamirin itu memang mengejutkan. Bukan karena mereka semuanya lelaki, hampir sepertiga di antaranya kiai sepuh, sebagian besar mengenakan sarung, sandal, kopiah hitam, atau peci haji warna-warni. Mereka ternyata mengikuti perkembangan mutakhir dan cukup kritis. Dalam sidang komisi rekomendasi, misalnya, antara lain diputuskan agar pimpinan nasional, politisi dan partai politik, tidak terlalu banyak bicara dan lebih mengedepankan kepentingan umum.

Itu tak berarti mereka sama sekali melupakan tarekat. Dalam komisi Diniyah Thariqiyah (agama dan tarekat), misalnya, antara lain diputuskan kriteria mursyid yang sudah harus mencapai tingkat kesufian cukup tinggi. Setelah berdebat alot dengan merujuk sejumlah kitab kuning, para kiai juga memutuskan haramnya tayangan alam gaib di televisi yang cenderung mendangkalkan akidah. Selain itu, minta nasihat kepada orang yang tak menjalankan salat juga haram, kecuali mengenai masalah umum yang tak terlalu penting.

Budiman S. Hartoyo, Sohirin (Pekalongan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...keyword: mamah dedeh bicara tarekat
No Searches

Leave a Reply


prosense agc agckucom