Bagaimana KB Menurut Islam?


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Yusuf Al-Qaradhawi melalui bukunya Halal dan Haram mengungkapkan, tujuan perkawinan salah satunya adalah lahirnya keturunan. Dengan adanya keturunan, menopang kelangsung je nis manusia. Islam menyukai banyaknya keturunan di kalangan umatnya.

Namun, Islam pun mengizinkan kepada setiap Muslim untuk mengatur keturunan apabila didorong oleh alasan kuat. Hal yang masyhur digunakan pada zaman Rasulullah untuk mengatur kelahiran adalah dengan azl, yaitu mengeluarkan sperma di luar rahim ketika akan terasa keluar.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dijelaskan, para sahabat menyatakan bahwa mereka biasa melakukan azl pada masa Nabi Muhammad SAW. Ketika informasi itu sampai kepada Rasulullah, beliau tidak melarangnya. Di sisi lain ada bantahan terhadap cerita-cerita tentang orang Yahudi bahwa azl merupakan pembunuhan kecil.

Rasulullah menegaskan dusta orang-orang Yahudi itu. Kalau Allah SWT berkehendak untuk menjadikannya hamil dari hubungan itu, maka tak akan ada yang dapat mengelaknya. Maksudnya, dalam hubungan intim dengan cara azl terkadang ada setetes sperma yang menyebabkan kehamilan.

Menurut Al-Qaradhawi, ada alasan-alasan yang menjadi pijakan untuk berkeluarga berencana. Di antaranya, adanya kekhawatiran kehidupan atau kesehatan ibu bila hamil atau melahirkan. Ini setelah penelitian dan pemeriksaan dokter yang dapat dipercaya. Ia mengutip AlBaqarah ayat 195, agar seseorang tak menjatuhkan diri dalam kebinasaan.

Alasan lainnya adalah kekhawatiran munculnya bahaya terhadap urusan dunia yang tak jarang mempersulit ibadah. Pada akhirnya, hal itu membuat seseorang mau saja menerima barang haram atau menjalankan pekerjaan terlarang demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Persoalan kesehatan dan pendidikan juga menjadi faktor yang menjadi pertimbangan dalam memutuskan berkeluarga berencana. Keharusan melakukan azl karena khawatir terhadap keadaan perempuan yang sedang menyusui kalau hamil atau melahirkan anak lagi. Rasulullah, kata Al-Qaradhawi, selalu berusaha demi kesejahteraan umatnya.

Oleh karena itu, Rasulullah memerintahkan umatnya berbuat hal yang melahirkan maslahat dan tak mengizinkan sesuatu yang menimbulkan bahaya. Menurut Al-Qaradhawi, di masa kini sudah ada beragam alat kontrasepsi yang dapat dipastikan kebaikannya. Hal inilah yang diharapkan oleh Rasulullah.

Beliau, ujar Al-Qaradhawi, ingin melindungi anak yang masih menyusu dari bahaya. Dengan dasar inilah ia mengatakan, jarak yang pantas antara dua anak adalah sekitar 30 atau 33 bulan bagi mereka yang berkeinginan menyempurnakan susuannya.
Imam Ahmad menuturkan, se muanya tentu jika ada perkenan sang istri.

Sebab, istrilah yang lebih berhak atas anaknya. Istri juga mempunyai hak bersenang-senang.

Pandangan Muhammadiyah

Sementara itu, Tim Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui fatwafatwa tarjih menjelaskan, surah An-Nisa ayat 9 secara umum dapat menjadi motivasi keluarga berencana, tapi bukan jadi dasar langsung kebolehannya.

Ayat tersebut berbunyi, “Hendaklah takut kepada Allah orangorang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”.

Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid, Islam menganjurkan agar kehidupan anak-anak jangan sampai telantar sehingga menjadi tanggungan orang lain. Ayat tersebut mengingatkan agar orang tua selalu memikirkan kesejahteraan jasmani dan rohani anakanaknya.

Pendapat Sayyid Sabiq dan Al Ghazali

Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqih Sunnah menjelaskan, dalam keadaan tertentu Islam tidak menghalangi pembatasan kelahiran melalui penggunaan obat pencegah kehamilan atau caracara lainnya. “Pembatasan kelahiran diperbolehkan bagi lakilaki yang beranak banyak dan tak sanggup lagi menanggung biaya pendidikan anaknya dengan baik,” tambahnya.

Demikian pula jika keadaan istri sudah lemah, mudah hamil, serta suaminya dalam kondisi miskin. Dalam keadaan semacam ini, ujar Sabiq, diperbolehkan membatasi kelahiran. Sejumlah ulama menegaskan pembatasan kelahiran tak sekadar diperbolehkan bahkan dianjurkan.

Imam Al-Ghazali membolehkan hal itu jika istri merasa khawatir akan rusak kecantikannya. Dalam kondisi tersebut, suami dan istri berhak memutuskan untuk melakukan pembatasan. Ada pula ulama yang mengatakan pembatasan bisa dilakukan tanpa syarat apa pun yang mendasarinya.

Mereka berpegang pada hadis-hadis mengenai sikap Rasulullah yang mengizinkan para sahabat melakukan azl.
Red: Siwi Tri Puji B

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...keyword: hukum KB menurut majelis tarjih muhammadiyah, hukum kb menurut majlis tarjih muhammadiyah, kb menurut islam, hukum bayi tabung dan kb dalam islam, kb menurut muhammadiyah, hukum kb menurut muhammadiyah, pendapat muhammadiyah tentang KB, Pandangan MUhammadiyah tentang kb, bahaya pembatasan kelahiran, kb dan bayi tabung menurut pandangan islam
No Searches

2 Responses to “Bagaimana KB Menurut Islam?”

  1. Tulisan yang sangat menarik dan layak sekali untuk disebarluaskan. KB memang menimbulkan perbedaan pandangan di kalangan ulama. Para ulama salaf cenderung melarang KB dengan dasar bahwa manusia hanya menjalankan rencana dari Alloh swt. Alloh memberi amanat berarti akan memberikan kekuatan padanya. Tapi sebagian ulama lain lebih melihat pada aspek yang didasarkan pada fakta empiris. Mereka menyesuaikan pandangan dan pemikirannya sesuai dengan tuntutan perubahan zaman.

  2. tanda tanda penguhuni sorga orang yang banyak anak dan dunia hanya lah sementara bukankah rekizi itu tuhan yang jamin jangan mencari cari ayat suci untuk menjual dunia dengan harga yang rendah dengan tujuan membenarkan semua dengan alasan dalil dalil padahal demua itu bisa menyesat kan dan jangan mengikuti kebanayakan orang hal bisa membinasakan kamu,jaman sekarang banyak mencari alasan dengan dalil dalil padahal tujuannya untuk dunia?barang siapa mencaricari dunia dia akan mendapat kan nya dan tidak dikurangi sedikit pun dari dunia nya sedang kan akhirat nya dia tidak dapat apa apa kecuali neraka jahanam? nauzubilah minzalik ? bukankah tuhan melaknat wanita bewajah jelek karena sedikit anak dan menyayangi wanita berwajah jelek karena banyak anak tapi tuhan akan lebih menyayangi dan lebih mencintai kalau wanita itu berwajah cantik itu pun kalau ada?dan tuhan membenci wamnita ber wajah cantik tapi sedikit anak dan lebi benci lagi berwajah jelek udah jelek anak sedikit amit amit jabang bayi?

Leave a Reply


prosense agc agckucom